Translate

Minggu, 11 Agustus 2013

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian. ....

Bandung, 11 Agustus 2013 ; 09.03 WIB

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian saya meninggalkannya dengan alasan yang menggantung.
Kebimbangan dan sikap kebocahan saya hanya mampu bertahan selama 6 bulan bersamanya.
Saya tak pernah berhasil membuatnya berubah.
Membuatnya jadi lebih baik.
Dan membuatnya nampak terlihat sama seperti sebelum saya dampingi.
Dan kemudian, saya putuskan untuk menyerah dan meninggalkannya.
Meski hingga kini, sosoknya masih menjadi teman baik saya.
Ya, hanya sebagai seorang teman baik :)

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian kami memutuskan untuk berpisah.
Jarak jadi alasan, sifat dan sikap jadi hambatan.
Adat jadi permasalahan.
Bandung - Lampung bukanlah jarak yang jauh sesungguhnya.
Hanyalah kami yang selalu bersikeras menjadikan jarak sebagai sebuah alasan untuk berpisah.
Setengah tahun bersama pun tak cukup untuk meruntuhkan ego masing-masing :')

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian kami berpisah secara terpaksa.
Perbedaan agama membuat kami tak bisa bersama.
Ya, Tuhan memang hanya satu. Tapi keyakinan dan apa yang kita jalani sangatlah berbeda :)
Terimakasih sayang, pernah mengajarkanku untuk menghargai arti perbedaan dalam sebuah kesatuan...
Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian ia meninggalkan saya dengan alasan yang tak pernah masuk akal.
Walau diakhirnya ia meminta saya tuk kembali.
Tapi apalah artinya, kami sudah saling memiliki pasangan lain.
Dan pada akhirnya, keduanyalah yang saling menyesal telah melepaskan satu sama lain :)
Setahun waktu pertemanan kami, dan sebulan masa pacaran membuat kami sadar, dulu pernah ada rasa cinta antara kami berdua.

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian dengan terpaksa saya harus meninggalkannya.
Empat puluh bulan bukanlah waktu yang singkat sayang.
Tapi kenapa masih juga selama itu kamu sakiti saya? 
Katamu kamu cinta, tapi tak sedikitpun rasa cinta yang kamu tunjukkan buat saya.
Harus lebih lama lagi kah saya menerima perlakuan kasar dan mengiyakan sifat idealismu yang selalu menjadikan saya kambing hitam dalam setiap kesalahanmu?
Tidak lagi sayang.
Saya tidak mau lagi jadi boneka yang bisa kamu permainkan seenak hatimu.
Saya menyerah dan menganggap saya gagal dalam membentuk pribadi mu jadi seorang pria.
Pria sejati itu muncuk dengan sendirinya harusnya.
Tapi tidak dengan kamu.
Pengalaman pun tak bisa menjadikanmu lebih dewasa.
Tak pula bisa memberikanmu pelajaran tentang kehidupan.
Usiamu hanyalah angka semata, kedok belaka.
Sedang pencitraanmu hanyalah sebuah tameng untung memperoleh perhatian dari para penggemarmu.
Saya menyerah, dan merelakan empat puluh bulan saya menjadi sesuatu yang sia-sia :)

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian saya harus meninggalkannya.
Perbedaan adat istiadat, tradisi, dan gaya hidup membuat pola fikir kami saling bertolak belakang.
Saya tak  kan pernah bisa memaksakan hidup bersama denganya.
Pola fikirnya pun tak pernah menatap ke depan.
Usianya hanya jadi penghias identitas.
Sedang sifat dan pemikirannya jauh lebih muda dari usianya.
Enam bulan menjalin long distance relationship INA - US membuat kami tak bisa saling bertatap satu sama lain.
Hubungan baik pun tak pernah terjalin setelah kamj memutuskan untik berpisah.
Semoga tanpa kehadiran saya sebagai pendampingnya, bisa membuatnya jauh lebih baik lagi :-)
Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian ia meninggalkan saya tanpa penjelasan.
Sikap bungkamnya tak pernah mengucap sedikutpun kata perpisahan.
Entah karena ia malu memiliki pendamping seperti saya, atau ia memilikj pendamping lain.
Semuu tak pernah terjelaskan.

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian saya meninggalkannya dan ia tak pernah terima perlakuan saya terhadapnya.
Ketidaksengajaan yang memperkenalkan kami berdua.
Ambulance yang memperkenalkan saya dengannya.
Walau singkat, nampaknya kata maaf pun tak cukup menghapus luka yang saya buat dalam hatinya.
Maafkan saya aa, sungguh tak pernah ada niat untuk menyakitimu...

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian masalalu nya menghantui hubungan kami.
Gagal menikah dan nama mantan calon istri yang sama menjadikan saya ragu untuk melanjutkan hubungan ini dengannya.

Saya pernah mendampingi seorang pria, tapi kemudian pola fikirnya yang terlalu kolot sangat menghambat segala sesuatu yang saya kerjakan.
Kekolotannya membuat saya berfikir ulang untuk menikah dengannya.
Sebulan masa pacaran kemudian dia mengajukan diri untuk menikahi sayapun saya urungkan dengan matang.
Ya, kita takkan pernah bisa bersama dalam semua yang serba bertolak belakang ini.
Saling melengkapi pun rasanya sulit.
Saya bukan anak kecil yang suka serba diatur.
Saya tau mana yang harus dan tak harus saya lakukan.
Tapi kamu selalu bertindak seolah kamu adalah nahkoda kapal dan awak kapal harus tunduk pada nahkoda.
Bukan sayang, kamu boleh merasa sebagai nahkoda.
Tapi saya kaptennya, bukan awak kapalmu :)

Dan kini, saya mendampingi seorang pria :)
Semoga saya bisa mendampinginya selamanya :)

Tidak ada komentar: