Translate

Rabu, 16 Desember 2015

Kisah seorang pemuda, dan wanita pemilik toko...

Rumah, 17 Desember 2015 ; 07.47 WIB

alkisah, diceritakan di suatu masa di negeri antah berantah. tinggal lah seorang pemuda tampan, rupawan nan baik hati. ia adalah seorang penyayang keluarga. ia adalah seorang yang begitu gemar menolong orang lain. ia adalah seorang pemuda yang bertekad penuh untuk berubah menjadi lebih baik lagi. dari ia yang dulu seorang yang bergitu bebas, namun dengan tekad kuatnya ia begitu ingin berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

hari demi hari ia lewati. terbilang ia sedang berusaha menyelesaikan studi nya di sebuah perguruan tinggi di salah satu kota besar. statusnya kini masih seorang mahasiswa tingkat akhir, yang mesti dengan sungguh-sungguh menyelesaikan pendidikannya dengan baik. demi membahagiakan keluarganya. tanggung jawab besar yang dia emban, membuatnya menjadi sesosok yang begitu bersungguh-sungguh.

sampai pada suatu hari, dimana ia seolah berfikir untuk memfokuskan dirinya pada tugasnya, sambil berusaha membantu mensejahterakan keluarganya. terlintas dibenaknya untuk menyelesaikan semuanya tanpa membebani keluarganya, ia ingin membuka sebuah usaha kecil yang akan  ia jalani demi membantu perekonomian keluarganya. untuk membuka usaha tersebut ia terpaksa mencari tempat yang ia butuhkan untuk memulai merintis usahanya itu.

segala cara ia upayakan demi mencari tempat nyaman yang ia butuhkan. surat kabar, telepon, bahkan media online pun ia usahakan demi membangun sesuatu yang ia impikan. sampai pada saatnya ia temukan tempat yang begitu menarik hatinya. begitu nyaman dan menurutnya berpotensi besar apabila ia membuka usahanya disana.

kemudian ia datangi tempat tersebut, sebagai usaha pertama. pemilik toko tersebut adalah seorang wanita. wanita muda, cantik dan baik hati. tapi entahlah apa yang ada didalam dirinya. namun kelihatannya ia seseorang yang pandai bercakap dan beramah tamah pada orang lain. ditunjukkan nya lah tempat tersebut oleh si pemilik toko kepada si pemuda itu. lalu kemudian pemuda tersebut menjatuhkan pilihannya untuk memilih toko tersebut sebagai tempat usahanya.

si wanita pun mengiyakan keinginan si pemuda tersebut, dengan senang hati. ia berfikir, akhirnya ia tenang dan bisa berbahagia karena ternyata toko yang ia iklankan mendapat sambutan baik dari seorang pemuda nan rupawan.

namun sayang sungguh sayang, tekad si pemuda tersebut memang baik, tapi karena keterbatasan ekonomi, si pemuda tersebut belum bisa melunasi semua biaya kontrak yang diinginkan oleh si wanita pemilik toko tersebut. tapi si pemuda tersebut mau membayar sepertiga dari harga yang diajukan oleh si wanita pemilik toko tersebut. si wanita menyambut dengan baik. walau dalam hatinya berkecamuk kecewa, tapi ia tak pernah utarakan itu. yang ia senangkan, akhirnya toko nya laku dikontrak oleh seseorang yang pandai menjaga apa yang ia miliki.

akhirnya si pemuda tersebut membayar sebagian uang muka yang dibutuhkan, ia ucapkan pada si wanita pemilik toko tersebut, ia berjanji akan melunasi semua biaya kontraknya, tapi ia harus mencari sebagian biaya yang dibutuhkan di tempat lain yang entah tak disebutkan kemana dan dimana. yang jelas, pemuda tersebut akan merantau bagitu jauh untuk mencari apa yang ia butuhkan, sambil berusaha menyelesaikan pendidikannya. si wanita pemilik toko pun mengiyakan meskipun sedikit kecewa. kecewa karena si pemuda tak pernah memberi kepastian kapan ia akan datang dan mengisi toko nya tersebut. toko tersebut memiliki 2 kunci, 1 ia berikan kepada si pemuda itu, 1 lagi ia simpan sebagai jaminan si pemuda itu akan kembali untuk mengisi tokonya.

hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. si wanita pemilik toko itu menunggu pemuda itu datang lagi. ia mulai resah, ia dirundung pilu. sebuah bangunan apabila lama tak diisi biasanya akan begitu rapuh, ia tak mau tokonya menjadi rapuh. ia berfikir mencari cara supaya tokonya tak rapuh. sambil ia menunggu si pemuda datang memenuhi janjinya. tapi sungguh disayangkan, ia tak pernah mendapat kepastian akan hal itu. kabar dari pemuda itu pun tak pernah ia dapatkan, pemuda itu pun tak pernah berkunjung untuk sekedar melihat tokonnya.

suatu hari tanpa diduga-duga. pemuda tersebut datang untuk memenuhi janjinya. mengisi toko yang akan ditempatinya. didatanginya lah si wanita tersebut untuk melihat toko yang akan ia tempati. ia membawa bayaran penuh untuk toko tersebut, dan ia pun telah menyelesaikan semua pendidikannya. bertemulah si pemuda dengan wanita pemilik toko tersebut, begitu bahagianhya wanita tersebut karena akhirnya pemuda itu datang memenuhi janjinya.

dibawalah pemuda itu menuju toko yang dijanjikan. namun, betapa kecewanya pemuda tersebut mendapati toko yang akan ia tempati dengan keadaany yang begitu tidak menyenangkan. kotor, bau, berantakan, bahkan mungkin terlalu sulit untuk dirapikan, menurutnya. namun tidak dengan si wanita pemilik toko tersebut. ia dengan telaten merapikan dan membereskan sisa sisa serakan yang ada di dalam toko tersebut. semua kembali seperti biasa. namun terlihat pada si pemuda, raut wajah kecewa masih terlintas padanya.

ternyata selama kepergian si pemuda tersebut, si wanita pemilik toko berusaha mengisi tokonya, kemudian ia sewakan lagi kepada orang-orang lain, padahal ia telah berjanji untuk menyewakan tokonya hanya pada si pria tersebut. karena ia berfikir supaya tokonya ada yang merawat, supaya bangunannya tak mudah rapuh. sayang sungguh sayang, bukan keindahan yang ia dapatkan, namun kekecewaan. beberapa penyewa toko bukannya menjaga toko wanita tersebut, bahkan malah ada sebagian yang menghancurkannya begitu saja. begitu kecewanya wanita tersebut, ia hilang dan putus asa dalam kesedihannya.

lalu apa yang terjadi setelah mereka kembali bertemu? akankah pemuda tersebut membayar lunas semua apa yang ia janjikan dan menempati toko tersebut?

to be continue...



Rabu, 30 September 2015

aku ingin dia, Tuhan :)

Bandung,
30 September 2015 ; 18.45 WIB

Tuhan,
bolehkah aku meminta.
di tahun ke 24 ini?

pintaku tak banyak, Tuhan.
aku hanya ingin berbahagia.
dengan dia...
seseorang yang pernah kau beri lalu kemudian menghilang.
lalu kemarin,
aku bertemu kembali dengannya Tuhan :)

betapa bahagianya hati ini saat Kau kembalikan ia di dalam hidupku.
semua nyata, tapi akankah sementara atau mungkin selamanya?

bolehkah aku memilikinya, Tuhan?
bolehkah aku menjadi makmumnya, Tuhan?
aku hanya ingin menyempurnakan Imanku bersamanya.
aku ingin menjadi bidadari untuknya.
aku ingin menjadi teman hidupnya, Tuhan...
bolehkah?

Minggu, 30 Agustus 2015

PRIA-BULAN-MEI (Part II)

Bandung,
30 Agustus 2015
19.40 WIB

Lalu,
entah ada angin apa.
tiba-tiba messenger ku berbunyi.
kulihat ada pesan didalamnya.

sesosok lelaki yang pernah ada di masa lalu,
dengan amat tiba-tiba muncul kembali.
kehadirannya seakan mengusik semua usahaku melupakannya.

oh, pria bulan mei.
apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?
apakah gerangan yang membawamu kembali masuk dalam kehidupanku?
masihkah ada aku didalam hatimu?
sehingga kau dengan segala usahamu berusaha menyelinap masuk dalam celah di dalam hatiku (lagi)?

oh, pria bulan mei.
kuharap kau tak datang lagi,
kalau hanya untuk pergi lagi.
kumohon kau tak memberikan harap lagi,
bila hanya akan menyakiti lagi.
kuminta kita jangan saling mencinta lagi,
bila pada akhirnya harus saling membenci lagi.

aku lelah sayang,
lelah karena aku harus berjuang sendirian lagi.
tidakkah kau mengkhawatirkanku?
tidakkah kau memikirkan tentang hatiku?
tidakkah kau cemas akan perasaanku?

sayang,
jika memang kembalinya dirimu adalah jalan agar kita bersama.
kumohon jadikanlah itu selamanya.
namun jika ini hanya batu loncatan,
kumohon,
jangan padaku.
jangan goyahkan perasaanku.
jangan goyahkan egoku.
segeralah akhiri semuanya.
agar aku tak lagi berharap padamu.
wahai kau pria-bulan-mei...

Selasa, 25 Agustus 2015

Jika nanti kamu kembali...

Rumah,
25 Agustus 2015
18.44 WIB

Jika suatu saat nanti kamu kembali,
entah itu satu bulan,
dua bulan,
tiga bulan,
empat bulan,
atau bahkan satu tahun...

kamu masih akan melihatku berdiri disini.
dengan badan tegap dan raut wajah yang tegar.
walau mungkin, hati gusar.

jika suatu saat nanti kamu kembali,
ingatlah hari pertama perkenalan kita.
tak ada ego,
tak ada duka,
walau mungkin sedikit dusta.

jika suatu saat nanti kamu kembali,
ingatlah hari dimana pertama kali kita bertemu.
senyum bahagia,
hati yang lega,
harap yang tinggi,
dan cinta yang dalam.

jika suatu hari nanti kamu kembali,
ingatlah masa-masa dimana aku menemanimu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
ingatlah saat aku membuatkanmu sarapan,
dengan segelas susu putih kesukaanmu,
dan setumpuk roti telur di meja makanmu.
aku masih ingat, kau begitu membenci cokelat,
sedang aku begitu menyukainya.

jika suatu hari nanti kamu kembali,
ingatlah hari-hari sulitmu.
dimana aku selalu ada bersamamu.
walau mungkin kehadiranku hanya kau manfaatkan,
tapi selama aku bersamamu, sama sekali tak pernah ada pamrih yang ku pinta darimu.
semua tulus aku lakukan untukmu.

jika suatu hari nanti kamu kembali,
ingatlah saat awal kau merintis usahamu.
ingatlah aku yang selalu memberikan semangat kepadamu.
walau munkin,
kehadiranku hanya kau anggap sebagai hiasan belaka.

jika suatu hari nanti kamu kembali,
ingatlah hari dimana kita duduk bersama.
menceritakan semua keluh kesah yang ada.
memimpikan tentang masa depan kita berdua.
merencanakan sebuah pernikahan indah di ujung senja.
menghayalkan keluarga kecil penuh cinta,
dengan tiga orang anak kecil yang berlarian kesana kemari menghiasi sudut rumah.
menginginkan kebahagiaan hingga hari tua, bahkan ajal yang menjemput.

jika suatu hari nanti kamu kembali,
ingatlah semua tingkah bodoh yang pernah kita lakukan.
ingatlah kesalahan-kesalahan kecil yang tak pernah kita permasalahkan.
ingatlah hari dimana kita selalu saling memaafkan.
tak pernah ada sedikitpun pertengkaran dalam hubungan kita.

namun,
jika suatu saat kamu kembali,
jangan pernah lupakan hari dimana kamu berusaha meninggalkanku,
berusaha sekuat mungkin menghancurkan hati yang terus kulapisi dengan kepercayaan.
berusaha sebisa mungkin meninggalkan aku yang saat itu sedang cinta-cintanya kepadamu.
berusaha sebisa mungkin menghindariku yang terus mengganggu harimu.
berusaha keras menenggelamkan mimpi yang pernah kita impikan,
dan harapan yang sudah setinggi langit kita bangun bersama.
lalu bahkan, menghapus semua yang pernah terjadi diantara kita.

lalu,
jika suatu saat kamu kembali,
aku ragu,
masihkah cinta itu menghampiri kita berdua?
ataukah hanya benci yang akan menyelimuti hati kita?
sungguh aku ragu.

lalu aku ingin bertanya untuk apa kamu kembali?

Sabtu, 22 Agustus 2015

KAMU : pria yang namanya tak boleh disebut #throwback

Rumah,
23 Agustus 2015
08.00 WIB

Pagi ini begitu cerah,
secerah dulu saat aku masih bersamamu.
wahai kau lelaki yang namanya enggan kusebut.
begitu dalam kau torehkan luka di dasar hati.
sulit rasanya terobati.
walau dengan setumpuk harap yang menggunung tinggi.
lalu begitu saja kau hancurkan harap itu dengan bom waktumu sendiri.

aku masih ingat bagaimana perjalanan hari-hariku bersamamu.
kadang ingin rasanya mengulang semua.
tapi apalah gunanya, bila nantinya hanya membuka kembali lembaran pilu dan mengorek luka yang mulai mengering.

12 Februari 2015 :
sungguh, awalnya tak ingin aku mengenalmu.
tapi kau bersikeras berusaha mengenalku.
beberapa kali permintaan pertemanan aku abaikan.
lalu kau datang dan datang lagi.
membuat hatiku luluh hingga terselip rasa penasaran terhadapmu.
memang, kau masuk dalam salah satu kriteria ku.
berbadan tegap, tinggi, besar.
hingga akhirnya tembok pertahananku hancur hanya karena mengenalmu.
perkenalan yang begitu singkat, tak banyak ucap, tapi menimbulkan banyak harap.
kau tak 'seburuk' imajiku.
humoris, lembut, atraktif.
dan pada akhirnya aku mengenalmu.
hingka kau menyatakan ketertarikanmu padaku.

13 Februari 2015 :
kala aku bingung akan acara esok hari,
dengan spontan aku bercerita kepadamu.
'aku butuh ditemani, menghadapi dia yang sudah lama jadi masa laluku'
lalu dengan sigap kau mengatakan siap untuk menemaniku esok hari.

14 Februari 2015 :
hampir kubatalkan janji pertemuan denganmu.
tapi kau dengan keras hati berniat untuk menemui aku.
dan dengan singkat, dua-hari perkenalan, akhirnya hari inilah pertama kali kita bertemu.
begitu menyenangkan.
menghabiskan waktu bersama para sahabat, dan menghabiskan malam bersama kamu.
'pria yang namanya tak boleh disebut'

14 Maret 2015 :
pertemuan kedua akhirnya terjadi.
kukira bulan lalu adalah pertemuan pertama dan terakhir kita,
tapi ternyata pada akhirnya kau membawaku pada pertemuan selanjutnya.
ada rasa gundah, dan rasa senang saat pertemuan terjadi.
kau, begitu indah dimataku.
mengapa begitu mudah kau memberikan kesan dihatiku.
sehingga aku dengan bodohnya kembali mencoba membuka pintu hati yang sekian lama aku kunci rapat dari siapapun.
oh, Tuhan....
i still have no idea how can i love him very fast like this.
sampai pada waktu kau mengucap bahwa kau mencintaiku.
really? i can't believe this.
oh, God... i really can't sleep...

21 Maret 2015 :
kukira pertemuan itu tak akan pernah terjadi lagi, sungguh.
tapi mungkin Tuhan menghendakinya lain.
sabtu ini, kau kembali mengajakku bertemu.
senang, karena aku mulai menjatuhkan hati padamu.
gugup, karena aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat.
takut, aku takut merasakan pedih yang dulu (di-masa-lalu) akan terjadi lagi.
tak pernah sedikitpun terucap kata 'pacaran' atau komitmen diantara kita.
yang kita mau hanyalah : as long as we feel comfort between each other, the just let it flow!

24 Maret 2015 :
sayang, kenapa pertemuan ini kau buat lagi?
tak takutkah kau menjatuhkan aku terlalu dalam pada cintamu yang masih semu?

28 Maret 2015 :
i met your sister, then she said that she accept me for being your girlfriend and wait for us to get married. she wants me to be her sister-in-law.
mengapa aku sebahagia ini?
diiming-imingi beribu harap,
dan aku hanya terdiam.
tanpa tau harus berbuat apa...

30 Maret 2015 :
aku bertemu beliau.
wanita itu.
wanita yang kini begitu aku hormati,
wanita yang kini begitu aku sayangi,
wanita yang kini kurasa begitu takut aku kehilangannya.
mamamu, begitu mudahnya ia mencuri perhatianku.
padahal aku sekeras hatiku berusaha mencuri perhatian dan menarik hatinya.
sayang, mengapa kau lakukan ini padaku?
ada perasaan bahagia bisa bertemu beliau.
sosok wanita hebat dan tangguh.
sosok pahlawan bagi keluarganya.
dan aku begitu bahagia mengenalnya.

April-Mei-Juni 2015 :
indah bukan sayang?
ya, kisah cinta kita memang begitu indah.
begitu banyak cerita yang kita torehkan bersama.
begitu banyak cinta yang kita tanam, namun pada akhirnya tak sempat kita semai.
tak ada badai yang menghadang, tak ada luka yang mengukir.
hanya ada cinta yang melekat.
oh, Tuhan.
betapa nikmat karuniamu.
mempertemukan aku dengan dia (yang-pada-saat-itu) aku impikan bisa menjadi imamku kelak.
begitu banyak mimpi yang kita dambakan.
dan berharap suatu saat nanti bisa terwujud.
sayang, bukankah semua ini nyata?
tidakkah kau membawaku terbang hanya untuk menjatuhkanku ke dasar bumi?
dan rayuanmu begitu meyakinkanku.
ah, sayang.
aku begitu mencintaimu (pada-saat-itu).

5 Juli 2015 :
sayang,
tidakkah ada kemelit diantara kita?
hatiku merasakan mulai ada yang janggal antara hubungan ini.

8 Juli 2015 :
selamat atas kelulusanmu ya, sayang.
semoga semua bisa bermanfaat untukmu.
walaupun tanpa kabar, aku tetap memantaumu dari jauh.
walaupun tanpa kata, aku tahu semua tentang duniamu.
walaupun tak terucap, aku tau semua tentang dirimu.
walau aku berusaha sebisa mungkin menutup semuanya darimu.
berusaha sekuat hati mencoba membahagiakanmu yang begitu amat kucintai.

12 Juli 2015 :
aku merasa tak enak hati.
terlebih mesti melepasmu.
melepas kau pulang ke kampung halamanmu.
sudah beberapa hari ini kau tampak berbeda sayang.
padahal, aku sedang merasakan cinta yang begitu besar untukmu.
dan aku begitu menunggu waktu ini.
karena kau berjanji akan me-legalkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi.
ya, kau pernah berjanji akan melamarku selepas Idul Fitri nanti.
kuharap kau menepati janjimu.
walau dengan berat hati aku harus melepasmu terlebih dahulu.
namun aku tetap berharap, keajaiban itu akan muncul sepulang dari kepergianmu.
walau dengan hati resah dan gundah akan kemelut ini.
Tuhan, beri aku kekuatanmu.....

13-20 Juli 2015 :
KAU BENAR-BENAR BERUBAH...

26 Juli 2015 :
dan, pada akhirnya,
apa yang selama ini aku takutkan terjadi.
dan, pada akhirnya,
hati yang sedang kuat-kuatnya, dengan paksa kau hancurkan.
dan, pada akhirnya,
harapan yang sedang tinggi-tingginya kau ledakkan.
dan, pada akhirnya,
mimpi yang sedang kita pupuk kau karamkan ke dasar samudera.
dan, pada akhirnya,
cinta yang belum sempat tersemai, kau buang ke ujung dunia begitu saja.
sekejam itukah dirimu, sayang?
materi bukanlah jadi alasan pasti kita berpisah.
toh, dari awalpun aku sepakat mendampingi dan menemanimu mendaki.
tak berleha-leha menunggu dipuncak.
adakah makhluk indah lainnya yang membuatmu menghampaskanku begitu dalam?
lalu mengapa begitu mudahnya kau tendang aku dari kehidupanmu?
oh, sayang.
apa salahku? hingga kau buat aku jadi seperti ini......

6 Agustus 2016 :
Happy Graduation Dear...
just happy for you.
hari ini adalah hari terakhir aku memperjuangkanmu.
itulah janjiku.
bila sampai hari ini tak ada kabar atas hasil perjuanganku.
dengan sekuat hati aku harus mudur.
mengundurkan diri dari kisah cinta kita.
walau nyatanya, kau yang lebih dulu pergi.
sedang aku masih berdiam diri menunggu keajaiban yang terjadi.
ya, menunggu kau kembali.
mustahil memang.
tapi hatiku begitu kuat bertahan, sedang logikaku sudah tak mengizinkan.
 
7 Agustus 2015- Hari dimana aku menulis semua tentang kita :
terkadang rasa rindu itu ada.
terlebih jika beliau yang menggoyah imanku untuk melupakanmu.
mama,
beliau begitu lembut.
beberapa kali aku merindukannya, pun beberapa kali ia memanggiku dalam bunga tidurku.

"ma, maafkan aku yang menyerah.
ma, maafkan aku yang belum bisa menjaga putramu dengan baik.
ma, maafkan aku yang mesti pergi dengan cara seperti ini.
ma, sungguh begitu aku menyayangimu, sebagaimana aku menyayangi putramu yang (pernah) aku impikan menjadi imamku kelak, dan menjadi ayah dari anak-anakku.
mama, maafkan aku menyakiti hatimu.
namun sungguh ma, aku menyayangimu, juga putramu...
sekarang sudah berakhir semuanya ma,
aku tak bisa berlama-lama disini,
dengan semua kesedihan ini.
maaf bila harus kutinggalkan semuanya karena keegoisanku.
beribu maaf untukmu ma...
salam sayang dari mantan calon menantumu :)"

mungkin seharusnya surat itu aku sampaikan pada beliau.
tapi,
ah sudahlah.
aku harus terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
aku harus tegar, terlebih jika kamu (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut) kembali dan menggodaku lagi.
aku harus bisa memposisikan diriku sebagaimana sebelum kau masuk ke dalam kehidupanku.
ya, baiklah.
untuk KAMU (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut),
terima kasih untuk beberapa bulan yang indah.
meski seperti kelihatannya hanya aku yang berjuang,
tapi aku yakin, kau pun sama halnya berjuang denganku.
hanya saja, aku tak tahu apa dan siapa yang (pernah) kau perjuangkan.
entah aku, atau DIA (makhluk-indah-lainnya)
yang pasti, perpisahan kita bukanlah karena ego ku semata,
atau bahkan wanita-mu dimasa lalu.
tanyakanlah pada hatimu.
apa yang sebenarnya terjadi, wahai kau (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut)...

ini untukmu...
dari aku (wanita-yang-(pernah)-mencintaimu)
walau pada akhirnya, dicampakkan begitu saja, hehe :)