Rumah,
23 Agustus 2015
08.00 WIB
Pagi ini begitu cerah,
secerah dulu saat aku masih bersamamu.
wahai kau lelaki yang namanya enggan kusebut.
begitu dalam kau torehkan luka di dasar hati.
sulit rasanya terobati.
walau dengan setumpuk harap yang menggunung tinggi.
lalu begitu saja kau hancurkan harap itu dengan bom waktumu sendiri.
aku masih ingat bagaimana perjalanan hari-hariku bersamamu.
kadang ingin rasanya mengulang semua.
tapi apalah gunanya, bila nantinya hanya membuka kembali lembaran pilu dan mengorek luka yang mulai mengering.
12 Februari 2015 :
sungguh, awalnya tak ingin aku mengenalmu.
tapi kau bersikeras berusaha mengenalku.
beberapa kali permintaan pertemanan aku abaikan.
lalu kau datang dan datang lagi.
membuat hatiku luluh hingga terselip rasa penasaran terhadapmu.
memang, kau masuk dalam salah satu kriteria ku.
berbadan tegap, tinggi, besar.
hingga akhirnya tembok pertahananku hancur hanya karena mengenalmu.
perkenalan yang begitu singkat, tak banyak ucap, tapi menimbulkan banyak harap.
kau tak 'seburuk' imajiku.
humoris, lembut, atraktif.
dan pada akhirnya aku mengenalmu.
hingka kau menyatakan ketertarikanmu padaku.
13 Februari 2015 :
kala aku bingung akan acara esok hari,
dengan spontan aku bercerita kepadamu.
'aku butuh ditemani, menghadapi dia yang sudah lama jadi masa laluku'
lalu dengan sigap kau mengatakan siap untuk menemaniku esok hari.
14 Februari 2015 :
hampir kubatalkan janji pertemuan denganmu.
tapi kau dengan keras hati berniat untuk menemui aku.
dan dengan singkat, dua-hari perkenalan, akhirnya hari inilah pertama kali kita bertemu.
begitu menyenangkan.
menghabiskan waktu bersama para sahabat, dan menghabiskan malam bersama kamu.
'pria yang namanya tak boleh disebut'
14 Maret 2015 :
pertemuan kedua akhirnya terjadi.
kukira bulan lalu adalah pertemuan pertama dan terakhir kita,
tapi ternyata pada akhirnya kau membawaku pada pertemuan selanjutnya.
ada rasa gundah, dan rasa senang saat pertemuan terjadi.
kau, begitu indah dimataku.
mengapa begitu mudah kau memberikan kesan dihatiku.
sehingga aku dengan bodohnya kembali mencoba membuka pintu hati yang sekian lama aku kunci rapat dari siapapun.
oh, Tuhan....
i still have no idea how can i love him very fast like this.
sampai pada waktu kau mengucap bahwa kau mencintaiku.
really? i can't believe this.
oh, God... i really can't sleep...
21 Maret 2015 :
kukira pertemuan itu tak akan pernah terjadi lagi, sungguh.
tapi mungkin Tuhan menghendakinya lain.
sabtu ini, kau kembali mengajakku bertemu.
senang, karena aku mulai menjatuhkan hati padamu.
gugup, karena aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat.
takut, aku takut merasakan pedih yang dulu (di-masa-lalu) akan terjadi lagi.
tak pernah sedikitpun terucap kata 'pacaran' atau komitmen diantara kita.
yang kita mau hanyalah : as long as we feel comfort between each other, the just let it flow!
24 Maret 2015 :
sayang, kenapa pertemuan ini kau buat lagi?
tak takutkah kau menjatuhkan aku terlalu dalam pada cintamu yang masih semu?
28 Maret 2015 :
i met your sister, then she said that she accept me for being your girlfriend and wait for us to get married. she wants me to be her sister-in-law.
mengapa aku sebahagia ini?
diiming-imingi beribu harap,
dan aku hanya terdiam.
tanpa tau harus berbuat apa...
30 Maret 2015 :
aku bertemu beliau.
wanita itu.
wanita yang kini begitu aku hormati,
wanita yang kini begitu aku sayangi,
wanita yang kini kurasa begitu takut aku kehilangannya.
mamamu, begitu mudahnya ia mencuri perhatianku.
padahal aku sekeras hatiku berusaha mencuri perhatian dan menarik hatinya.
sayang, mengapa kau lakukan ini padaku?
ada perasaan bahagia bisa bertemu beliau.
sosok wanita hebat dan tangguh.
sosok pahlawan bagi keluarganya.
dan aku begitu bahagia mengenalnya.
April-Mei-Juni 2015 :
indah bukan sayang?
ya, kisah cinta kita memang begitu indah.
begitu banyak cerita yang kita torehkan bersama.
begitu banyak cinta yang kita tanam, namun pada akhirnya tak sempat kita semai.
tak ada badai yang menghadang, tak ada luka yang mengukir.
hanya ada cinta yang melekat.
oh, Tuhan.
betapa nikmat karuniamu.
mempertemukan aku dengan dia (yang-pada-saat-itu) aku impikan bisa menjadi imamku kelak.
begitu banyak mimpi yang kita dambakan.
dan berharap suatu saat nanti bisa terwujud.
sayang, bukankah semua ini nyata?
tidakkah kau membawaku terbang hanya untuk menjatuhkanku ke dasar bumi?
dan rayuanmu begitu meyakinkanku.
ah, sayang.
aku begitu mencintaimu (pada-saat-itu).
5 Juli 2015 :
sayang,
tidakkah ada kemelit diantara kita?
hatiku merasakan mulai ada yang janggal antara hubungan ini.
8 Juli 2015 :
selamat atas kelulusanmu ya, sayang.
semoga semua bisa bermanfaat untukmu.
walaupun tanpa kabar, aku tetap memantaumu dari jauh.
walaupun tanpa kata, aku tahu semua tentang duniamu.
walaupun tak terucap, aku tau semua tentang dirimu.
walau aku berusaha sebisa mungkin menutup semuanya darimu.
berusaha sekuat hati mencoba membahagiakanmu yang begitu amat kucintai.
12 Juli 2015 :
aku merasa tak enak hati.
terlebih mesti melepasmu.
melepas kau pulang ke kampung halamanmu.
sudah beberapa hari ini kau tampak berbeda sayang.
padahal, aku sedang merasakan cinta yang begitu besar untukmu.
dan aku begitu menunggu waktu ini.
karena kau berjanji akan me-legalkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi.
ya, kau pernah berjanji akan melamarku selepas Idul Fitri nanti.
kuharap kau menepati janjimu.
walau dengan berat hati aku harus melepasmu terlebih dahulu.
namun aku tetap berharap, keajaiban itu akan muncul sepulang dari kepergianmu.
walau dengan hati resah dan gundah akan kemelut ini.
Tuhan, beri aku kekuatanmu.....
13-20 Juli 2015 :
KAU BENAR-BENAR BERUBAH...
26 Juli 2015 :
dan, pada akhirnya,
apa yang selama ini aku takutkan terjadi.
dan, pada akhirnya,
hati yang sedang kuat-kuatnya, dengan paksa kau hancurkan.
dan, pada akhirnya,
harapan yang sedang tinggi-tingginya kau ledakkan.
dan, pada akhirnya,
mimpi yang sedang kita pupuk kau karamkan ke dasar samudera.
dan, pada akhirnya,
cinta yang belum sempat tersemai, kau buang ke ujung dunia begitu saja.
sekejam itukah dirimu, sayang?
materi bukanlah jadi alasan pasti kita berpisah.
toh, dari awalpun aku sepakat mendampingi dan menemanimu mendaki.
tak berleha-leha menunggu dipuncak.
adakah makhluk indah lainnya yang membuatmu menghampaskanku begitu dalam?
lalu mengapa begitu mudahnya kau tendang aku dari kehidupanmu?
oh, sayang.
apa salahku? hingga kau buat aku jadi seperti ini......
6 Agustus 2016 :
Happy Graduation Dear...
just happy for you.
hari ini adalah hari terakhir aku memperjuangkanmu.
itulah janjiku.
bila sampai hari ini tak ada kabar atas hasil perjuanganku.
dengan sekuat hati aku harus mudur.
mengundurkan diri dari kisah cinta kita.
walau nyatanya, kau yang lebih dulu pergi.
sedang aku masih berdiam diri menunggu keajaiban yang terjadi.
ya, menunggu kau kembali.
mustahil memang.
tapi hatiku begitu kuat bertahan, sedang logikaku sudah tak mengizinkan.
7 Agustus 2015- Hari dimana aku menulis semua tentang kita :
terkadang rasa rindu itu ada.
terlebih jika beliau yang menggoyah imanku untuk melupakanmu.
mama,
beliau begitu lembut.
beberapa kali aku merindukannya, pun beberapa kali ia memanggiku dalam bunga tidurku.
"ma, maafkan aku yang menyerah.
ma, maafkan aku yang belum bisa menjaga putramu dengan baik.
ma, maafkan aku yang mesti pergi dengan cara seperti ini.
ma, sungguh begitu aku menyayangimu, sebagaimana aku menyayangi putramu yang (pernah) aku impikan menjadi imamku kelak, dan menjadi ayah dari anak-anakku.
mama, maafkan aku menyakiti hatimu.
namun sungguh ma, aku menyayangimu, juga putramu...
sekarang sudah berakhir semuanya ma,
aku tak bisa berlama-lama disini,
dengan semua kesedihan ini.
maaf bila harus kutinggalkan semuanya karena keegoisanku.
beribu maaf untukmu ma...
salam sayang dari mantan calon menantumu :)"
mungkin seharusnya surat itu aku sampaikan pada beliau.
tapi,
ah sudahlah.
aku harus terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
aku harus tegar, terlebih jika kamu (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut) kembali dan menggodaku lagi.
aku harus bisa memposisikan diriku sebagaimana sebelum kau masuk ke dalam kehidupanku.
ya, baiklah.
untuk KAMU (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut),
terima kasih untuk beberapa bulan yang indah.
meski seperti kelihatannya hanya aku yang berjuang,
tapi aku yakin, kau pun sama halnya berjuang denganku.
hanya saja, aku tak tahu apa dan siapa yang (pernah) kau perjuangkan.
entah aku, atau DIA (makhluk-indah-lainnya)
yang pasti, perpisahan kita bukanlah karena ego ku semata,
atau bahkan wanita-mu dimasa lalu.
tanyakanlah pada hatimu.
apa yang sebenarnya terjadi, wahai kau (pria-yang-namanya-tak-boleh-disebut)...
ini untukmu...
dari aku (wanita-yang-(pernah)-mencintaimu)
walau pada akhirnya, dicampakkan begitu saja, hehe :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar